Surveilans

Artikel Surveilans

Jeng Milan’s Sulianti?  Sebuah Nama Penuh Makna
Oleh Herlina*)

Jeng Milans Sulianti adalah nama sebuah grup Whatsapp yang merupakan kepanjangan dari Jejaring Mitra Surveilans Sulianti, merupakan wadah komunikasi sekaligus bertukar informasi dalam penemuan kasus penyakit potensial KLB termasuk Penyakit Infeksi Emerging (PIE) dengan tujuan untuk mempercepat pemutusan mata rantai penularan.

Jeng Milans Sulianti digagas pada awal September 2018, masa Bidang Pengkajian Epidemiologi masih berdiri oleh Herlina, Anita PD Nugroho dan Jamiatul Hoer, saat itu nama grupnya adalah Mitra Surveilans  RSPI-SS yang mewadahi komunikasi penyakit potensial KLB kepada para petugas surveilans se DKI Jakarta dan pada tanggal 19 September 2018 oleh Bapak Dr. Ir Bambang Setiaji, M.Kes, (sebagai Kepala Bidang Epidemiologi) disetujui untuk dibuat lebih luas lagi bukan hanya DKI Jakarta tapi hingga ke wilayah Bodetabek. Pada Desember 2018, WAG berganti nama sesuai SK Direktur Utama No. HK.02.03/XXXVIII/7388/2018 menjadi Jejaring Mitra Surveilans Epidemiologi disingkat Jeng Milan’s Sulianti.

Jeng Milan’s Sulianti merupakan bentuk pelaporan informal, Sebelumnya pelaporan adanya kasus baru PIE di lakukan secara formal, sesuai dengan alur dan birokrasi, yaitu dari Bidang Pengkajian Epidemiologi melaporkan ke Direktur Pengkajian PPI-PM (Direktur Teknis), selanjutnya ke Direktur Utama, dan setelah itu baru dilaporkan keluar yaitu Sudinkes, Dinkes DKI Jakarta dan Ditjen P2P.

Pelaporan di atas, tidaklah salah, tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama (tidak bisa cepat), sementara sebagai epidemiolog, kita sadar melakukan pelaporan yang cepat dan tepat merupakan suatu hal yang penting, tidak hanya untuk pengobatan pada pasien juga untuk pemutusan rantai penularan untuk pencegahan risiko penularan penyakit di masyarakat.

Informasi yang disampaikan pada Whatsapp grup Jeng Milans’s Sulianti tidak hanya kasus difteri, tetapi semua kasus potensial KLB dan PIE, termasuk malaria, Covid-19, monkeypox dan juga yang sedang hangat saat ini Hepatitis Unknown. Sekalipun WAG Jeng Milans masih mewadahi mitra surveilans se Jabodetabek, saat ini seiring berkembangnya RSPI Sulianti Saroso sebagai center of excellent PIE, koordinasi surveilans sudah merambah hingga luar Jabodetabek seperti Sumatera, Jawa Tengah, Kalimantan, Sulawesi bahkan Papua. Besar harapan kedepan WAG ini akan menghimpun mitra jejaring surveilans di seluruh Indonesia.

Pada saat Indonesia mengumumkan kasus Covid-19 pertama yaitu  tanggal 2 Maret 2020, peran Jeng Milan’s sangat dirasakan oleh teman-teman Dinas Kesehatan. Informasi cepat  baik kasus Orang Dalam Pemantauan (ODP) ataupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP), berupa hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) dikirimkan melalui WAG Jeng Milan’s Sulianti sehingga teman-teman Dinas Kesehatan dengan cepat melakukan tindak lanjut melakukan pelacakan kontak erat pada ODP/PDP tersebut. Mereka mengakui, kegiatan jejaring tersebut tidak didapatkan di rumah sakit lain baik di DKI Jakarta maupun luar DKI Jakarta, bahkan puskesmas di DKI Jakarta tidak bisa secepat itu memberikan hasil PE pada petugas Dinas Kesehatan .

Tidak terasa, sudah 4 tahun Jeng Milan’s menjadi mitra komunikasi untuk kegiatan surveilans epidemiologi. Melalui Jeng Milan’s Sulianti, informasi dapat digali dan dilaporkan dengan cepat dan tepat  yang mana ke duanya merupakan indikator mutu dari surveilans epidemiologi.

Demikian salah satu inovasi yang dikembangkan oleh di RSPI Sulianti Saroso terkait jejaring surveilans  eksternal melalui Jeng Milan’s Sulianti . Semoga dengan adanya Jeng Milan’s Sulianti dapat menambah nuansa baru dalam pengembangan surveilans epidemiologi penyakit infeksi di rumah sakit.

Penggagas Jeng Milan’s Sulianti: Dr. Ir. Bambang Setiaji, M,Kes, Herlina, M. Kes, Anita PDN, M.Kes dan Jamiatul Hoer, SKM

*) Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI
 (Detektif Penyakit dalam Menghadapi Masalah Kesehatan Masyarakat)
 oleh: Anita PD Nugroho *)

 

Indonesia merupakan negara dengan angka kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular yang cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan perlunya respon KLB yang cepat, berbekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup dari epidemiolog kesehatan maupun petugas surveilans untuk turun ke lapangan melakukan penyelidikan dan penanggulangan KLB.

KLB seringkali menjadi masalah kesehatan karena kejadiannya sangat cepat, melibatkan banyak orang/populasi dan wilayah yang terserang bisa sangat luas. KLB dapat menimbulkan kecemasan dan kepanikan bagi masyarakat, saling menyalahkan antara petugas kesehatan dan masyarakat kerap terjadi.

Tantangan sekaligus keunggulan seorang ahli epidemiologi adalah kemampuannya dalam melakukan penyelidikan epidemiologi, dimana dalam situasi ini ahli epidemiologi dituntut untuk tenang dan profesional, tetap berpegang pada dasar ilmiah dengan pendekatan sistematis beriorientasi pada upaya penyelamatan dan pencegahan pada populasi yang mengalami KLB.

Ibarat seorang detektif untuk menemukan titik terang suatu kasus, demikianlah seorang ahli epidemiologi melakukan penggalian informasi mendalam terhadap kasus dan kontak eratnya baik secara demografi, klinis, faktor risiko, perilaku dan lingkungan hingga melakukan analisis data dan informasi yang menghasilkan rekomendasi tindakan segera pencegahan dan penanggulangan KLB.

Apa itu penyelidikan epidemiologi ?

Penyelidikan epidemiologi adalah penyelidikan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab, sumber dan cara penularan serta faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/wabah penyakit.

Tujuan penyelidikan epidemiologi ?

Secara umum penyelidikan epidemiologi bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi penyakit KLB/Wabah, mengetahui kelompok masyarakat yang terancam penyakit KLB/Wabah, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit KLB/Wabah termasuk sumber dan cara penularannya, dan menentukan cara penanggulangan KLB/wabah.

Siapa saja yang terlibat dalam penyelidikan epidemiologi ?

Penyelidikan epidemiologi melibatkan epidemiolog atau petugas surveilans, masyarakat dalam hal ini kasus atau pasien, orang-orang terdekat disekitar kasus atau kontak erat dan tenaga kesehatan yang merawat kasus seperti dokter ataupun perawat sebagai informan tambahan jika dibutuhkan.

Peran serta masyarakat dalam penyelidikan epidemiologi ?

Keberhasilan penyelidikan epidemiologi tidak hanya bergantung pada kemampuan ahli epidemiologi, keterbukaan dan kejujuran informasi dari masyarakat/kasus sangat penting dalam upaya pemutusan mata rantai penularan dan menghentikan KLB/Wabah. Penyelidikan epidemiologi merupakan bagian dari kegiatan perlindungan masyarakat dari ancaman masalah kesehatan KLB penyakit, sesuai dengan amanah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia, oleh karena itu peran serta masyarakat dalam penyelidikan epidemiologi berkontribusi pada keselamatan nyawa dan kesehatan individu lainnya.

*) Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda

Chat Me!
× Ada Yang Bisa Kami Bantu?
This site is registered on wpml.org as a development site.